Selasa, 20 November 2012

KELUARGA PASANGAN BARU


ASUHAN KEPERAWATAN  PADA KELUARGA 
DENGAN PASANGAN BARU





2.1. Keluarga
a.Definisi
 K
eluarga  adalah unit terkecil masyarakat, terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. (UU. No 10, 1992). keluarga  adalah kumpulan dua orang / lebih hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional, dan setiap individu punya peran masing-masing (Friedman 1998).
Whall (1986) dalam analisis konsep tentang keluarga sebagai unit yang perlu dirawat, ia mendefinisikan keluarga sebagai kelompok yang mengidentifikasikan diri dengan anggotanya yang terdiri dari dua individu atau lebih yang asosiasinya dicirikan oleh istilah-istilah khusus, yang boleh jadi tidak diikat oleh hubungan darah atau hukum, tapi yang berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai sebuah keluarga .
Family Service America (1984) mendefinisikan keluarga  dalam suatu cara yang komprehensif, yaitu sebagai ”dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan keintiman”.
Hariyanto, 2005. keluarga  menunjuk kepada dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga .
Dapat disimpulkan bahwa keluarga  adalah unit terkecil dari masyarakat dua orang / lebih, memiliki ikatan perkawinan dan pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi, punya peran masing-masing dan mempertahankan suatu budaya.
Ciri-ciri keluarga , antara lain sebagai berikut : Diikat tali perkawinan, ada hubungan darah, ada ikatan batin, tanggung jawab masing–masing, ada pengambil keputusan, kerjasama diantara anggota keluarga , interaksi, dan tinggal dalam suatu rumah
Ciri, ciri struktur keluarga  :
 1. Terorganisasi, bergantung satu sama lain
2. Ada keterbatasan
 3. Perbedaan dan kekhususan, peran dan fungsi masing-masing.

b.      Fungsi keluarga:
1.      Fungsi afektif dan koping keluarga  memberikan kenyamanan emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas dan mempertahankan saat terjadi stress.
2.      Fungsi sosialisasi keluarga  sebagai guru, menanamkan kepercayaan, nilai, sikap, dan mekanisme koping, memberikan feedback, dan memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.
3.      Fungsi reproduksi keluarga  melahirkan anak, menumbuh-kembangkan anak dan meneruskan keturunan.
4.      Fungsi ekonomi keluarga  memberikan finansial untuk anggota keluarga nya dan kepentingan di masyarakat.
5.      Fungsi fisik, keluarga  memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.

2.2. Keluarga dengan pasangan baru menikah
K
eluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki ( suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.
Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya : makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya. Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga : keluarga suami, keluarga istri dan keluarga sendiri.


2.3    Tugas Tahap Perkembangan Keluarga dengan Pasangan Baru Menikah
Fase ini dimulai dari saat perkawinan hingga si istri hamil. Fase ini merupakan masa tersulit dalam kehidupan perkawinan, angka perceraian tinggi pada bulan-bulan awal hingga tahun pertama perkawinan. Pasangan jugA harus melakukan penyesuaian kepuasan (mutually satisfactory adjustment) sejak awal perkawinan Keadaan akan makin sulit jika pasangan juga harus melakukan penyesuaian di luar hubungan dengan suami/isterinya, misal : melanjutkan sekolah, tugas luar kota, mobilitas tinggi, tergantung kpd orangtua (tempat tinggal, finansial), hubungan dengan keluarga besar.
Maka ada beberapa tugas perkembangan yang harus dijalani oleh pasangan pada fase pemantapan ini agar bisa menjalani tahap ini dengan baik, antara lain : (Duvall, sociological perspective, 1985)
1.  Memantapkan tempat tinggal
2.  Memantapkan sistem mendapatkan dan membelanjakan uang
3.  Memantapkan pola siapa mengerjakan apa, siapa bertanggung jawab kepada siapa (pembagian peran & tanggung jawab)
4.  Memantapkan kepuasan hubungan seksual
5.  Memantapkan sistem komunikasi secara intelektual dan emosional
6.  Memantapkan hubungan dengan keluarga besar
7.  Memantapkan cara berinteraksi dengan teman; kolega dan organisasi
8.  Menghadapi kemungkinan kehadiran anak dan perencanaannya
9.  Memantapkan filosofi hidup sebagai pasangan suami isteri

 Tugas perkembangan keluarga baru menikah (Rodgers cit Friedman) :
1. Membina hubungan intim yang memuaskan.
-    Akan menyiapkan kehidupan bersama yang baru
 -   Sumber- sumber dari dua orang yang digabungkan.
-    Peran berubah.
-    Fungsi baru diterima.
-    Belajar hidup bersama sambil penuhi kebutuhan kepribadian yang mendasar.
-    Saling mensesuaikan diri terhadap hal yang kecil yang bersifat rutinitas
Keberhasilan dalam mengembangkan hubungan terjadi apabila kedua pasangan saling menyesuaikan diri dan kecocokan dari kebutuhan dan minat pasangan.
2.  Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis atau membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial .
Pasangan menghadapi tugas memisahkan diri dari keluarga asal dan mengupayakan hubungan dengan orang tua pasangan dan keluarga besar lainnya. Loyalitas utama harus dirubah untuk kepentingan perkawinannya.
3. Mendiskusikan rencana memiliki anak atau memilih KB.
Masalah lain yang banyak terjadi pada keluarga pasangan baru, dan sebaiknya segera dicarikan
jalan keluarnya adalah:
  • Tidak menghadapi masalah utang 
 Ternyata, menurut data dari thenest.com, masalah keuangan adalah masalah paling utama yang dipermasalahkan oleh pasangan. Jika sudah menikah, maka ada baiknya  anda mengeluarkan dan mengutarakan semua masalah perutangan Anda, toh ia adalah pasangan anda, tak ada yang perlu ditutup-tutupi, tetapi perlu dihadapi bersama. Kemudian, cobalah berhitung dan rencanakan keuangan anda untuk ke depannya. Jika perlu, temui ahli perencana keuangan.


·         Mengasingkan diri dari pertemanan

Teman-teman adalah kunci sukses dari pernikahan. Jadi, jangan mengasingkan diri dari mereka. Jika teman-teman Anda yang lajang berkumpul, pastikan segalanya sudah dalam keadaan aman di rumah, lalu ikutlah pergi bersama mereka, tentu dengan seizin suami. Hanya karena Anda tidak ikut-ikutan flirting bersama pria di klub bukan berarti anda tidak bisa menjadi teman yang suportif.

·         Tidak cukup seks

 Sebanyak 60 persen pasangan baru menikah yang mengikuti survei mengatakan bahwa kehidupan seks mereka berantakan. Alasan terbanyak, sibuk, tentunya. Namun, itu bukan alasan yang cukup untuk memadu kasih di atas ranjang bersama pasangan anda, kan? Cobalah untuk menginisiasikan acara berhubungan intim dengan pasangan. Bahkan, kalau perlu, buat jadwalnya. Jika anda mulai terbiasa untuk melakukannya, maka anda akan makin menginginkannya, tak tertutup kemungkinan akan makin menyukainya juga.

·         Tidak menjaga tubuh

 Pernahkah anda menyadari, biasanya orang-orang yang baru saja menikah akan terlihat lebih "makmur" dalam hal berat badan? Ya, entah mengapa, ini selalu terjadi. Mungkin karena kebiasaan minum atau makan di malam hari atau karena sibuk berlelah-lelahan pada malam hari sehingga pada pagi harinya jadi lebih semangat untuk sarapan dalam jumlah banyak. Wah, ini mesti diwaspadai. Sebaiknya anda mulai memperbanyak agenda untuk berolahraga bersama pasangan. Tak ingin, kan, si dia merasa anda tampil tak segar atau terlihat lebih tambun dari sebelum menikah.

·         Mertua dan ipar

Lima puluh persen pasangan yang disurvei oleh thenest.com memiliki masalah dengan mertua dan ipar mereka. Cobalah untuk mengatur ekspektasi, seperti anda akan datang berkunjung bersama pasangan, mengunjungi keluarga isteri atau suami anda secara berkala.



·         Pertengkaran tak penting

 Anda tahu, kadang hidup seatap dengan orang yang Anda pikir sudah anda kenal bisa jadi hal yang sangat memusingkan. Cobalah untuk tidak mudah terpancing amarah. Namun, jika memang emosi marah sudah memuncak, ucapkan permisi, bilang bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri dulu. Tenangkan diri anda sejenak. Pastikan anda dalam keadaan tenang dan kepala dingin saat ingin menyelesaikan masalah tadi. Saat emosi, pikiran anda tidak tenang dan bisa saja mengucapkan hal-hal yang tak anda maksudkan yang bisa saja malah memperburuk masalah.


·         Terobsesi dengan bayi

Tentu, ingin memiliki bayi adalah langkah besar berikut dalam hidup setelah menikah. Namun, tenanglah, jangan terburu-buru dan menjadi terobsesi untuk memilikinya segera. Rata-rata, pasangan memiliki bayi dalam jangka waktu 3 tahun pernikahan mereka. Jadi, mengapa terburu-buru? Nikmati waktu anda bersama pasangan, berlibur bersama, menikmati waktu tanpa perlu pusing memikirkan kerepotan akan keperluan bayi, dan lainnya. Toh, ketika anda dalam keadaan rileks, kemungkinan untuk hadirnya momongan justru lebih besar.


2.4. Masalah Keperawatan Pada keluarga dengan Pasangan Baru
S
alah satu masalah yang bisa terjadi pada keluarga dengan pasangan baru, adalah timbul dari tugas keluarga sebagai pasangan baru, dimana pada makalah ini kelompok mencontohkannya pada tugas mendiskusikan untuk memiliki anak atau memilih KB. Pada pasangan yang memutuskan untuk memilih Kb, maka akan dapat memunculkan beberapa permasalahan keperawatan.
Dalam keluarga berencana peran perawat adalah membantu pasangan untuk memilih metoda kontrasepsi yang tepat untuk digunakan sesuai dengan kondisi, kecendrungan, sosial budaya dan kepercayaan yang dianut oleh pasangan tersebut, oleh karena itu proses keperawatan lebih diarahkan kepada membantu pasangan memilih metode kontrasepsi itu sendiri. Kegagalan penggunaan metode kontrasespsi terjadi disebabkan karena kurangnya pengetahuan wanita tersebut terhadap alat kontrasespsi itu sendiri sehingga memberikan pengaruh terhadap kondisi fisiologis, psikologis, kehidupan sosilaL dan budaya terhadap kehamilan tersebut. maka disinilah letak peran perawat untuk memberikan pengetahuan yang tepat, sehingga hal di atas tidak terjadi. Pengkajian Karena masalah  kontrasepsi merupakan suatu hal yang sensitif bagi wanita, maka dalam mengkaji hal ini perawat harus sangat memperhatikan privasi klien.
Selain pengkajian umum (Identitas klien, Riwayat kesehatan, Riwayat obgyn), pengkajian khusus yang perlu kita lakukan untuk memenuhi peran sebagai edukator dalam pemilihan metode kontrasepsi yang tepat adalah :
1.       Pengetahuan klien tentang macam-macam metoda kontrasepsi Pengkajian ini dilakukan dengan menanyakan kapan wanita tersebut berencana untuk memiliki anak. Kemudian tanyakan metoda apa yang sedang direncanakan akan dipakai oleh klien. Bila klien menyatakan satu jenis/metoda, perawat dapat menanyakan alasan penggunaan metoda tersebut. pertanyaan-pertanyaan ini akan mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi klien terkait dengan kontrasepsi yang digunakannya.
2.       Pengetahuan tentang teknik penggunaan metoda kontrasepsi Dalam melaksanakan perannya sebagai educator perawat harus dapat menentukan tingkat pengetahuan klien tentang teknik penggunaan kontrasepsi. Misalnya tanyakan tentang bagaimana klien tersebut memakai diafragma, kapan dan di mana spermisida dioleskan atau berapa kali dalam sehari klien tersebut harus mengkonsumsi pil KB dengan menggali tingkat pengetahuan klien, perawat dapat menentukan bila ada kesalahan persepsi dalam penggunaan yang akan menyebabkan tidak efektifnya alat kontrasepsi yang dipakai dan akan menyebabkan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.

3.       Kenyamanan klien terhadap metoda kontrasepsi yang sedang dipakai. Dalam mengkaji kenyamanan klien, dengarkan keluhan-keluhan klien terhadap efek samping dari kontrasepsi yang digunakannya. Dengarkan juga pernyataan klien tentang kenyamanannya menggunakan metoda kontrasepsi bulanan seperti suntik hormone dari pada pil keluarga berencana yang harus di konsumsi setiap hari. Keefektifan suatu metoda meningkat seiring dengan peningkatan kenyamanan klien dalam menggunakan metoda tersebut.

4.       Faktor-faktor pendukung penggunaan metode yang tepat Jika klien berencana untuk mengganti metoda kontrasepsi diskusikan tentang pilihan-pilihan yang cocok untuk digunakan. Kaji faktor-faktor yang dapat membantu pemilihan metode terbaik seperti riwayat kesehatan dahulu klien yang merupakan kontraindikasi dari metoda kontrasepsi, riwayat obstetric, budaya dan kepercayaan serta keinginan untuk mencegah kehamilan.

Adapun kontraindikasi penggunaan metoda kontrasepsi yang berkaitan dengan riwayat kesehatan adalah :

 a. Kontrasepsi oral
1)    Pil keluarga berencana terpadu
Riwayat TBC, kejang, kanker payudara, benjolan payudara, telat haid, hamil, pendarahan abnormal, hepatitis, penyakit jantung, tromboplebitis. Untuk wanita perokok, usia lebih dari 35th, pengidap DM, epilepsy, dan penderita hipertensi tidak dianjurkan menggunakan pil keluarga berencana.

2)    Mini Pil
Mini pil ini sebaiknya tidak digunakan pada wanita yang harus menghindari segala jenis metoda hormonal, atau yang mejalani pengobatan kejang.

b.    Kontrasepsi Hormonal
1)    Hormone Implant
Kanker/benjolan keras di payudara, terlambat haid, hamil, perdarahan yang tidak diketahui penyebabnya, penyakit jantung dan keinginan untuk hamil kurang dari lima tahun.

2)    Hormone Injeksi
Suntikan terpadu tidak boleh diberikan pada wanita dalam masa menyusui.

c.    Kontrasepsi Mekanik
1)    Diafragma dan kap servik Diafragma dan kap servik tidak dipakai pada wanita dengan riwayat alergi lateks dan riwayat toksik shock syndrome.
2)    IUD Hamil atau kemungkinan hamil, resiko tinggi terkena penyakit yang menular lewat hubungan seks, riwayat infeksi alat reproduksi, infeksi sesudah persalinan/aborsi, kehamilan ektopik, metroragia dismenorhea, anemia dan belum pernah hamil, mola.

d.    Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi ini tidak ada kontraindikasinya, karena sifatnya permanen. Digunakan bagi pasangan yang sudah tidak ingin atau sudah tidak memungkinkan untuk mempunyai anak Analisa Data Kurang pengetahuan tentang keluarga berencana merupakan penyebab tersering dari gangguan fisik, psikologis dan social dalam kaitannya dengan kehamilan yang tidak direncanakan.

2.4.1. Pengkajian

Tahap yg perlu dilakukan :
1. Bina Hubungan Saling Percaya
2.Perkenalan
3.Jelaskan tujuan kunjungan
4.Berfokus terhadap siklus kehidupan keluarga
5.Riwayat keluarga sejak lahir
6.Kaji stress yang menimpa keluarga dan masalah yang actual potensial
7.Perkembangan keluarga saat ini
8.Tanyakan pengalaman-pengalaman dan tugas-tugas umum, bagaimana hasil tersebut
dicapai, dirasakan.
9.Tanyakan hubungan di masa lalu dan sekarang dengan orientasi keluarga mereka dan bentuk kehidupannya àMmemberi Perawat : pemahaman tentang mereka selama tahun-tahun pertumbuhan mereka.
10.Sejauh mana keluarga memenuhi tugas perkembangannya
11.Gali riwayat keluarga : pertemuan pertama pasangan, hubungan sebelum menikah, halangan-halangan terhadap perkawinannya, respon terhadap perkawinannya.

2.4.2.Diagnosa Keperawatan.
Diagnosa yang mungkin berdasarkan pengkajian dan data adalah :

Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan berhubungan dengan kurang Pengetahuan Terhadap Pemilihan dan ketersediaan metoda kontrasepsi.

Sedangkan diagnosa keperawatan lain yang dapat timbul yaitu:
1.Resiko konflik pengambilan keputusan b.d alternatif kontrasepsi
2.Rasa takut b.d efek samping kontrasepsi
3.Resiko tinggi infeksi b.d kondisi aktif secara seksual dan penggunaan metoda kontrasepsi
4.Resiko tinggi perubahan pola seksualitas b.d takut hamil
5.Distress spiritual b.d ketidakcocokan keyakinan agama atau budaya dengan metoda kontrasepsi yang dipilih .
2.4.3. Intervensi Keperawatan
 Resiko Perubahan Pemeliharaan Kesehatan berhubungan dengan kurang pengetahuanterhadap pemilihan dan ketersediaan metoda kontrasepsi.

Kriteria hasil  :
·         Setelah dilakukan intervensi, pasangan akan :
·        Menjabarkan dengan benar tentang cara penggunaan metoda kontrasepsi yang dipilih   dan pemecahan masalahnya
·        Dapat menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari metoda  kontrasepsi yang  dipilih.
·        Melaporkan adanya kepuasan terhadap metoda kontrasepsi yang dipilih. 
·        Menggambarkan metoda lain yang dapat dipakai dan memilih salah satu dari metoda tersebut bila pasangan inggin mengganti metode kontrasepsi.

 Intervensi :
·         Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberika informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan, dan mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.

·         Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara mengidentifikasi konsekwensi tidak melakukan tindakan, mengidentfikasi sumber – sumber yang dimiliki keluarga dan mendiskusikan tentang konsukensi tiap tindakan.

·         Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakait dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah dan mengawasi keluarga melakukan perawatan .

Intervensi secara umum yang bias dilakukan perawat
·         Tujuannya adalah untuk membantu keluarga dan anggotanya bergerak ke arah penyelesaian tugas-tugas perkembangan individu dan keluarga.
·         Penguasaan satu kumpulan tugas-tugas perkembangan keluarga memunginkan keluarga bergerak maju ke arah tahap perkembangan berikutnya.
·         Jika tugas-tugas perkembang keluarga tidak terpenuhi maka keluarga disfungsional.
·         Memberikan penyuluhan kepada keluarga mengenai proses perkembangan keluarga.
·         Membantu keluarga mencapai dan mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan dan pertumbuhan pribadi dari anggota keluarga secara individual dan fungsi yang optimum ( kebutuhan pertumbuhan keluarga).
·         Membimbing antisipasi & penyuluhan untuk mencapai tujuan prevensi primer.
·         Membantu keluarga mengantisipasi dan melewati transisi normatif yang beda dalam kehidupan keluarga.


Kamis, 11 Oktober 2012

IDUL ADHA/IDUL QURBAN


Idul Adha (di Republik Indonesia, Hari Raya Haji, adalah sebuah hari raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban, yaitu ketika nabi Ibrahim (Abraham), yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail untuk Allah, akan mengorbankan putranya Ismail, kemudian digantikan oleh-Nya dengan domba.
Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama di tanah lapang, seperti ketika merayakan Idul Fitri. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah, hari ini jatuh persis 70 hari setelah perayaan Idul Fitri. Hari ini juga beserta hari-hari Tasyrik diharamkan puasa bagi umat Islam.
Pusat perayaan Idul Adha adalah sebuah desa kecil di Arab Saudi yang bernama Mina, dekat Mekkah. Di sini ada tiga tiang batu yang melambangkan Iblis dan harus dilempari batu oleh umat Muslim yang sedang naik Haji.
Hari Idul Adha adalah puncaknya ibadah Haji yang dilaksanakan umat Muslim.

Kamis, 04 Oktober 2012

TULISAN SAYA

Askep Kardiovaskuler: BRUGADA SYNDROME



Brugada syndrome adalah penyakit yang bersifat genetik (diturunkan) yang dikarakteristikkan dengan adanya gambaran abnormal pada EKG adanya peningkatan resiko kematian jantung mendadak (suddent cardiac death). Syndroma ini diketahui merupakan penyebab kematian paling umum pada pria muda yang sebelumnya tidak diketahui menderita penyakit jantung di Thailand dan Laos.
Pada tahun 1980-an badan CDC (Centre for Disease Control) di Atlanta, melaporkan tentang kejanggalan angka kematian mendadak yang tinggi, yang terjadi pada imigran yang berasal dari Asia Tenggara. Di Thailand, sindrom ini disebut sebagai Lai-tai (meninggal selagi tidur) dan penduduk disana mempercayai kematian tersebut disebabkan oleh hantu seorang janda yang suka laki-laki muda, sehingga disarankan kepada kaum pemuda untuk berpakaian layaknya wanita saat akan mau tidur untuk menghindari kematiaan tersebut. Di Philipina fenomena ini diketahui sebagai Bangungut (ketakutan yang disertai kematiaan saat tidur), sedangkan di Jepang disebut sebagai Pokkuri (kematian yang tidak diharapkan saat malam hari). Dilaporkan insidennya mendekati 26 hingga 38 kasus per 100.000 penduduk.
Walaupun kelainan-kelainan EKG yang menyertai syndrome Burguda ini sudah banyak dilaporkan pada tahun 1989, namun baru pada tahun1992, Brugada bersaudara mengenali kelainan tersebut sebagai kondisi klinik yang jelas yang dapat menyebabkan kematian mendadak yang menyebabkan adanya ventrikel fibrilasi di dalam jantung.

Angka kejadian
Karena penyakit ini belum begitu lama diidentifikasi, masih ada kesulitan dalam menetukan jumlah angka kejadian dan distribusinya di dunia. Namun ada beberapa analisa data dari beberapa sumber yang melaporkan, tentang kejadian penyakit ini. Disebutkan bahwa Brugada syndrome menyebabkan sekitar 4 hingga 12% dari kematian mendadak yang tidak diharapkan  dan hampir 50% dari semua kematian pasien yang terlihat jelas memiliki jantung yang normal. Syndrome ini juga dilaporkan menyebabkan kematian mendadak pada individu yang memiliki usia dibawah 50 tahun yang tidak menderita penyakit jantung. Laporan terbaru dari Perancis dan Jepang menyebutkan bahwa terjadi 1 dari 1000 EKG pada orang normal compatibel dengan sindrome tersebut.

Penyebab dan Genetika
Syndrome ini berhubungan dengan genetika. Hampir 60% dari pasien dengan kematian mendadak dengan tipe tertentu pada gambaran EKG, memiliki riwayat keluarga yang mengalami kematian mendadak juga, atau riwayat anggota keluarga yang memiliki gambaran EKG dengan kelainan yang sama. Dilaporkan pula kasus yang terjadi secara sporadik, yang kemungkinan mengalami de novo mutation dalam keluarganya. Proses tranmisinya biasanya dominan autosomic. Di Thailand penyakit ini secara eksklusif lebih banyak menyerang kaum laki-laki. Penjelasan kenapa lebih banyak terjadi pada kaum laki-laki, memang belum begitu jelas. Tetapi sangat mungkin berhubungan dengan adanya modifikasi dalam gen. Beberapa mutasi yang berhubungan dengan sindrome ini, berpengaruh terhadap gen SCN5A yang merupakan simbol dari canel natrium jantung yang terletak pada kromosom ke-3 (3p21). Namun dari hasil studi ada juga yang tidak didapatkan mutasi pada gen ini, ini artinya mutasinya ada pada gen lainnya, yang artinya ini merupakan penyakit yang bersifat genetik yang bisa diturunkan. Kehilangan fungsi pada gen yang mengalami mutasi ini, menyebabkan kehilangan aksi potensial pada level lapisan epicardial area ventrikel kanan. Hal ini berakibat menyebarnya repolarisasi pada area transmural dan epikardial. Penyebaran pada area transmural menyebabkan adanya segmen ST elevasi dan adanya akses yang melewati dinding ventrikel, sementara penyebaran repolarisasi pada pada epikardial memfasilitasi adanya re-entry pada fase2, dimana akan menimbulkan ekstrasistole re-entran fase2 yang akan menangkap akses ke ventrikel tadi, sehingga merangsang terjadinya ventrikel fibrilasi dan /atau fibrilasi yang sering menyebabkan kematian jantung mendadak. Belakangan banyak dilaporkan bahwa penelitian terhadap orang yang  meninggal  karena menderita  penyakit ini, menunjukkan adanya kelainan struktural pada atrium kanan.
Gambaran EKG
Pada beberapa kasus penyakit ini dapat dideteksi dengan mengobservasi karakteristik pada gambaran EKG, yang mungkin akan ada selamanya, atau akan menghilang akibat efek obat-obatan.
Syndrome Brugada memiliki 3 bentuk gambaran EKG.
Tipe 1, dengan ST elevasi(berbentuk spt teluk) paling kurang 2 mm dari J point, penurunan segmen ST secara bertahap dan gelombang T negatip.
Tipe 2, berbentuk spt pelana dengan ST elevasi mm J point dan sekurangnya 1 mm ST elevasi dengan gelombang T positip atau biphasik.
Tipe 3 juga berbentuk spt pelana,dengan ST elevasi kurang dari 2 mm J point dan kurang dari 1 mm ST elevasi dengan gelombang T positip. Bentuk yang dapat terlihat pada gambaran EKG adalah ST elevasi yang persisten di lead V1-V3 dengan RBBB, baik dengan terminal gelombang S ataupun tidak yang terdapat pada lead bagian lateral. Kadang-kadang juga disertai dengan perpanjangan interval PR. Gambaran EKG ini besifat fluktuasi, mungkin disebabkan oleh keseimbangan otonomi atau akibat pengaruh obat-obatan anti aritmia.

Manifestasi Klinik
Manifestasi dari syndrome ini disebabkan oleh karena adanya episode VT polimorfik hingga VF, sehingga manifestasinya berada dalam rentang yang sangat luas sekali. Pada akhir satu spektrum didapatkan penderita yang tanpa mengalami gejala (asimptomatik), tetapi di sisi lain ada yang mengalami kematian yang mendadak. Hal yang mungkin bisa membantu mengidentifikasi manifestasi dari syndrome ini adalah, waktu pendeteksian adanya kelainan EKG pada penderita, apakah ditemukan saat pemeriksaan kesehatan rutin, ditemukan setelah ada riwayat anggota keluarga yang mengalami kematian mendadak, atau diidentifikasi setelah pernah mengalami sinkope tanpa sebab yang jelas.

Pengobatan
Penyebab kematian pada syndrome Brugada adalah Ventrikel fibrilasi. Episode sinkope dan kematian mendadak disebabkan karena episode VT polimorfik  atau yang cepat dan timbul gejala. Sementara belum ada terapi modalitas yang dapat diandalkan dan secara total mencegah terjadinya VF pada syndrome ini, maka pengobatan ditujukan untuk mencegah terjadinya aritmia yang mematikan dengan cara pemasangan ICD. Sementara itu, beberapa penelitian akhir-akhir ini menyebutkan peranan dari Quinidine, (obat anti aritmia kelas IA) yang dapat menurunkan episode VF pada syndrome ini serta mengoreksi perubahan spontan pada EKG.